Jejak Pengabdian 36 Tahun Berakhir Haru, Maizar Tinggalkan Warisan Kebersamaan untuk Pemasyarakatan Riau
PEKANBARU – Langkah perlahan Maizar melewati barisan Pedang Pora di Ballroom Hotel Grand Suka Pekanbaru, Jumat (29/5/2026), menjadi simbol berakhirnya sebuah perjalanan panjang pengabdian.
Tepuk tangan yang menggema dari seluruh penjuru ruangan bercampur dengan rasa haru yang tak dapat disembunyikan para pegawai Pemasyarakatan Riau yang hadir.
Hari itu bukan sekadar seremoni pelepasan seorang pejabat. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi penanda berakhirnya 36 tahun pengabdian Maizar, Bc.IP., S.Sos., M.Si sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Mengusung tema “Meninggalkan Jejak Pengabdian, Menguatkan Semangat Kebersamaan”, acara pelepasan purna tugas Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Riau tersebut berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan.
Sejumlah pejabat Kanwil Ditjenpas Riau, para Kepala Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan se-Riau, perwakilan PT Taspen Cabang Pekanbaru, pimpinan BRI Regional Pekanbaru, tokoh masyarakat, hingga keluarga besar Pemasyarakatan Riau turut hadir memberikan penghormatan kepada sosok yang dikenal dekat dengan pegawai dan memiliki komitmen tinggi terhadap kemajuan organisasi.
Momen pelepasan itu terasa semakin istimewa karena menjelang akhir masa baktinya, Maizar menerima kenaikan pangkat menjadi Pembina Utama (IV/e), jenjang tertinggi dalam karier Aparatur Sipil Negara. Penghargaan tersebut menjadi bukti atas dedikasi, loyalitas, integritas, serta kontribusi panjang yang telah diberikannya bagi dunia pemasyarakatan.
Dalam sambutannya, Maizar tampak beberapa kali menahan haru. Dengan suara yang bergetar, ia mengenang perjalanan tugas yang telah dilaluinya bersama seluruh keluarga besar Pemasyarakatan Riau.
Baginya, Riau bukan hanya daerah penugasan semata. Daerah ini telah menjadi tempat yang memberikan banyak pelajaran hidup, pengalaman, dan kenangan yang tak terlupakan.
“Riau bukan hanya tempat bekerja. Riau telah menjadi rumah yang mengajarkan arti kebersamaan, loyalitas, ketulusan dan pengabdian,” ujar Maizar di hadapan para tamu undangan.
Di momen perpisahan tersebut, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jajaran apabila selama masa kepemimpinannya terdapat kekurangan, baik dalam ucapan, sikap maupun kebijakan yang diambil.
Menurutnya, setiap keputusan yang pernah dibuat semata-mata dilakukan untuk kepentingan organisasi dan kemajuan Pemasyarakatan di Provinsi Riau.
“Tidak ada keberhasilan seorang pimpinan tanpa orang-orang hebat di belakangnya. Saya merasa sangat beruntung pernah menjadi bagian dari keluarga besar Pemasyarakatan Riau,” katanya.
Sejak awal kegiatan, suasana haru sudah terasa. Maizar bersama sang istri disambut melalui prosesi adat Melayu berupa pemasangan tanjak, pemberian buket bunga, serta tari persembahan yang dibawakan oleh warga binaan pemasyarakatan.
Prosesi tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan selama bertugas di Bumi Lancang Kuning.
Tak sedikit tamu undangan yang tampak larut dalam suasana emosional saat video perjalanan pengabdian Maizar ditayangkan.
Rekaman berbagai aktivitas dan capaian selama memimpin Kanwil Ditjenpas Riau membawa kembali kenangan perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.
Beberapa pegawai bahkan terlihat meneteskan air mata ketika menyampaikan kesan dan pesan kepada sosok yang selama ini mereka anggap bukan hanya sebagai atasan, tetapi juga sebagai pembimbing dan orang tua.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian cenderamata, penyerahan manfaat Taspen, pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun, serta ramah tamah bersama seluruh tamu undangan.
Di tengah suasana tersebut, diumumkan pula bahwa tongkat estafet kepemimpinan sementara akan dilanjutkan oleh Muhammad Lukman, A.Md.IP., S.H., M.Si yang saat ini menjabat Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum Kanwil Ditjenpas Riau sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Riau.
Dalam sambutannya, Lukman mengaku berat melepas sosok Maizar yang selama ini menjadi figur penting bagi seluruh jajaran.
Menurutnya, Maizar bukan sekadar pemimpin administratif, tetapi juga seorang mentor yang selalu memberikan teladan dalam bekerja dan bersikap.
“Kami sangat berat melepas Bapak Maizar. Bagi kami, beliau bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga sosok ayah yang menjadi panutan, pembimbing, dan sahabat dalam menjalankan tugas,” ungkap Lukman.
Ia menilai banyak pelajaran berharga yang diwariskan Maizar kepada seluruh pegawai, mulai dari integritas, kedisiplinan, loyalitas hingga kemampuan membangun hubungan kekeluargaan di lingkungan kerja.
Tak hanya di internal organisasi, Lukman juga mengapresiasi kemampuan Maizar dalam membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk insan pers di Riau.
Menurutnya, keterbukaan informasi yang selama ini dibangun telah menciptakan sinergi positif dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas pemasyarakatan.
“Beliau selalu terbuka kepada siapa saja, termasuk rekan-rekan media. Komunikasi yang baik itulah yang membuat berbagai program Pemasyarakatan dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menjelang akhir acara, suasana kembali dipenuhi rasa haru saat prosesi Pedang Pora dilaksanakan. Diiringi tepuk tangan panjang seluruh hadirin, Maizar dan istri berjalan melewati barisan penghormatan sebagai simbol berakhirnya masa tugas yang telah dijalani dengan penuh dedikasi.
Meski kini resmi memasuki masa purna bakti, Maizar menegaskan bahwa tali silaturahmi dengan keluarga besar Pemasyarakatan Riau tidak akan pernah terputus.
Ia berharap nilai kebersamaan, persatuan, dan semangat pengabdian yang selama ini dibangun dapat terus dijaga oleh seluruh jajaran.
Bagi keluarga besar Pemasyarakatan Riau, perpisahan tersebut bukan hanya tentang berakhirnya sebuah jabatan.
Kebih dari itu, momen tersebut menjadi penghormatan kepada seorang pemimpin yang telah meninggalkan jejak pengabdian, keteladanan, dan warisan kebersamaan yang akan terus dikenang sepanjang masa.(*01/Leli)









Tulis Komentar