Tak Mau Ambil Risiko Saat Pacu Jalur, Bupati Suhardiman Perintahkan Penanganan Cepat Turap Rusak di Arena Baserah
TELUK KUANTAN – Keselamatan ribuan masyarakat yang akan memadati Arena Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae Basogha, Kecamatan Kuantan Hilir, menjadi perhatian serius Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Suhardiman Amby.
Menyikapi kerusakan turap penahan tebing akibat abrasi di kawasan arena pacu jalur tersebut, Bupati langsung menginstruksikan jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kuansing untuk turun ke lapangan dan segera mencari solusi penanganan.
Langkah cepat yang diambil pemerintah daerah ini mendapat perhatian luas masyarakat. Pasalnya, kerusakan turap yang berada di tepian Sungai Kuantan tersebut dinilai berpotensi mengancam keselamatan pengunjung apabila tidak segera ditangani, terlebih menjelang pelaksanaan Pacu Jalur Baserah yang diperkirakan akan menyedot ribuan penonton dari berbagai daerah.
Bupati Suhardiman menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak boleh diabaikan dalam setiap pelaksanaan kegiatan masyarakat, terutama event budaya berskala besar seperti Pacu Jalur yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing.
“Kita tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Karena itu saya sudah meminta Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR untuk segera melakukan pengecekan dan mengupayakan langkah penanganan yang diperlukan,” tegas Suhardiman di Teluk Kuantan, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, keberadaan turap penahan tebing memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kestabilan bantaran sungai sekaligus melindungi kawasan yang menjadi lokasi berkumpulnya masyarakat saat perlombaan berlangsung.
Jika kondisi turap terus mengalami kerusakan, maka risiko terjadinya pengikisan tanah maupun longsoran tebing akan semakin besar.
Sebagai kepala daerah, Suhardiman menilai tindakan pencegahan jauh lebih penting dibandingkan menunggu munculnya dampak yang lebih besar. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah terkait bergerak cepat melakukan identifikasi kerusakan dan menyusun langkah perbaikan yang tepat.
“Kita ingin masyarakat yang datang merasa aman dan nyaman. Event budaya ini adalah kebanggaan daerah. Karena itu seluruh sarana pendukung harus dipastikan dalam kondisi baik,” ujarnya.
Pacu Jalur sendiri bukan sekadar perlombaan mendayung perahu tradisional.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun itu merupakan identitas budaya masyarakat Kuantan Singingi yang hingga kini tetap lestari dan menjadi daya tarik wisata unggulan Provinsi Riau.
Setiap tahunnya, arena pacu jalur selalu dipadati penonton. Tidak hanya warga lokal, tetapi juga pengunjung dari berbagai kabupaten dan kota di Riau bahkan luar daerah. Tingginya antusiasme masyarakat membuat faktor keamanan dan kesiapan infrastruktur menjadi perhatian utama pemerintah.
Menindaklanjuti arahan Bupati, Dinas PUPR Kuansing melalui Bidang Sumber Daya Air langsung turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan kondisi turap yang mengalami kerusakan.
Kepala Dinas PUPR Kuansing, melalui Kepala Bidang SDA, Zulderi, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima instruksi langsung dari Bupati terkait kondisi tersebut.
“Benar, kami sudah menerima arahan dari Bapak Bupati. Tim Bidang SDA juga telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi turap yang mengalami kerusakan akibat abrasi,” kata Zulderi.
Menurutnya, tim teknis saat ini sedang melakukan inventarisasi tingkat kerusakan yang terjadi di lapangan. Hasil peninjauan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang paling efektif dan sesuai dengan kondisi lokasi.
"Kami sedang mengumpulkan data dan melakukan analisis teknis. Setelah itu akan ditentukan solusi terbaik yang bisa dilakukan. Yang jelas, perhatian Bapak Bupati terhadap keselamatan masyarakat dan aset daerah sangat besar,” ujarnya.
Kerusakan turap di kawasan Tepian Lubuok Sobae Basogha diduga terjadi akibat abrasi yang berlangsung dalam waktu cukup lama. Arus Sungai Kuantan yang terus menggerus bantaran sungai menyebabkan sebagian struktur penahan tebing mengalami kerusakan dan penurunan fungsi.
Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, abrasi berpotensi menyebabkan pengikisan tanah secara berkelanjutan.
Dampaknya tidak hanya mengancam area publik di sekitar lokasi, tetapi juga dapat merusak fasilitas penunjang yang selama ini digunakan masyarakat.
Selain menjadi arena perlombaan Pacu Jalur, kawasan Tepian Lubuok Sobae Basogha juga merupakan pusat aktivitas masyarakat di Kecamatan Kuantan Hilir. Lokasi tersebut kerap digunakan sebagai tempat berkumpul, bersantai, hingga berbagai kegiatan sosial dan budaya lainnya.
Karena itu, keberadaan turap yang kuat dan aman menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kenyamanan serta keselamatan masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Secara teknis, turap penahan tebing berfungsi menahan tekanan tanah dan mencegah terjadinya longsor maupun abrasi pada bantaran sungai.
Infrastruktur ini memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan tepian sungai sekaligus melindungi berbagai fasilitas umum yang berada di sekitarnya.
Sementara abrasi sendiri merupakan proses pengikisan tanah akibat aliran air yang terjadi secara terus-menerus.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, abrasi dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur, penyusutan area daratan, hingga longsor yang membahayakan keselamatan masyarakat.
Respons cepat yang ditunjukkan Bupati Suhardiman mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Masyarakat berharap hasil peninjauan yang dilakukan tim PUPR dapat segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret sehingga kondisi turap tidak semakin memburuk menjelang pelaksanaan Pacu Jalur Baserah.
Dengan kesiapan infrastruktur yang baik, masyarakat optimistis Pacu Jalur Baserah tahun ini dapat berlangsung aman, nyaman, dan sukses. Lebih dari sekadar perlombaan tradisional, Pacu Jalur merupakan simbol kebersamaan, kebanggaan, serta warisan budaya yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Komitmen pemerintah daerah dalam merespons persoalan ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keselamatan masyarakat. Sebab, keberhasilan sebuah perhelatan budaya tidak hanya diukur dari meriahnya acara, tetapi juga dari seberapa baik keamanan dan kenyamanan pengunjung dapat terjamin.(*01/Leli)









Tulis Komentar