Gelar Razia Insidentil, Lapas Narkotika Rumbai Tegaskan Komitmen Wujudkan Zero Halinar

Pekanbaru – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Rumbai kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih dari praktik ilegal melalui pelaksanaan razia insidentil di blok hunian warga binaan, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban sekaligus langkah nyata menuju target “zero halinar” atau bebas dari handphone, pungutan liar, dan narkoba di dalam lapas.

Razia dilakukan secara menyeluruh dengan menyasar kamar-kamar hunian warga binaan. Petugas melakukan pemeriksaan detail terhadap barang-barang pribadi serta penggeledahan badan untuk memastikan tidak ada benda terlarang yang disembunyikan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah potensi penyalahgunaan fasilitas lapas yang dapat mengganggu stabilitas keamanan.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan dalam 15 Program Aksi 2026 Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada poin keenam yang menekankan pemberantasan peredaran narkoba serta praktik penipuan dengan berbagai modus di dalam lapas dan rumah tahanan. Implementasi program ini menjadi prioritas utama bagi seluruh jajaran pemasyarakatan di Indonesia.

Razia dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai, Edoward Nikelini Bangun, bersama Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP), Theo TUP. Kegiatan ini turut didampingi oleh Kepala Subseksi Keamanan, Aidiel Candra, serta melibatkan staf dan regu penjagaan yang bertugas di lapas tersebut.

Dalam arahannya, Edoward menegaskan pentingnya meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan. Ia mengingatkan seluruh petugas agar tidak lengah dalam menjalankan tugas pengawasan, terutama dalam melakukan kontrol keliling di blok hunian maupun area luar lapas.

“Sesuai dengan program aksi kementerian, kita harus melaksanakan setiap poin dengan maksimal. Salah satunya adalah meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban. Intensitas kontrol harus ditingkatkan, begitu juga dengan ketelitian dalam memeriksa barang dan orang yang masuk ke dalam lapas,” ujarnya.

Razia berlangsung dengan tertib dan tetap mengedepankan pendekatan humanis. Petugas memastikan bahwa proses penggeledahan dilakukan sesuai prosedur tanpa mengabaikan hak-hak warga binaan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara penegakan aturan dan penghormatan terhadap aspek kemanusiaan dalam sistem pemasyarakatan.

Dari hasil razia, petugas menemukan sejumlah barang yang tidak semestinya berada di dalam kamar hunian. Meski tidak ditemukan barang berbahaya dalam jumlah besar, keberadaan barang-barang tersebut tetap menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu gangguan keamanan jika dibiarkan.

Sebagai bentuk penegakan aturan, barang-barang hasil sitaan langsung diamankan dan selanjutnya dimusnahkan. Proses pemusnahan dilakukan secara terbuka sebagai wujud transparansi serta komitmen dalam memberantas segala bentuk pelanggaran di dalam lapas.

Theo TUP selaku Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas menambahkan bahwa kegiatan razia seperti ini akan terus dilakukan secara berkala maupun insidentil. Menurutnya, konsistensi adalah kunci utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pemasyarakatan.

“Kami tidak akan memberikan ruang bagi masuknya barang-barang terlarang ke dalam lapas. Razia akan terus dilakukan, baik secara terjadwal maupun mendadak, agar warga binaan dan pihak luar tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pelanggaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa upaya menciptakan zero halinar tidak hanya bergantung pada razia semata, tetapi juga memerlukan sinergi antara petugas, warga binaan, serta dukungan dari masyarakat. Edukasi dan pembinaan terhadap warga binaan juga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran untuk mematuhi aturan yang berlaku.

Langkah tegas yang dilakukan Lapas Narkotika Rumbai ini mendapat apresiasi sebagai bentuk keseriusan dalam memperbaiki sistem pemasyarakatan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, komitmen untuk menjaga integritas dan profesionalisme menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Dengan pelaksanaan razia insidentil ini, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban di Lapas Narkotika Rumbai tetap terjaga dengan baik. Selain itu, upaya ini juga menjadi pesan tegas bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran di dalam lapas.

Ke depan, Lapas Narkotika Rumbai berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengawasan serta memperkuat implementasi program-program strategis dari kementerian. Dengan langkah yang konsisten dan terukur, target zero halinar diharapkan dapat terwujud secara optimal, menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang aman, tertib, dan bebas dari praktik ilegal.(*02/cinta)