Apel Kesiapsiagaan Bencana Nasional, BPBD Jember Perkuat Sinergi Relawan dan Latih Respons Cepat

Beragam komunitas relawan ambil bagian dalam kegiatan ini, di antaranya Relawan Ben Sroben, Rescue Baret Biru, Tagana, Tiga Perempat Kalisat, Rock n Rol, Barat Daya, hingga Relawan Gumitir.

JEMBER — Komitmen memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana kembali ditegaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember melalui pelaksanaan Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang digelar di kawasan PPG Sidomulyo, Kecamatan Silo, Minggu (26/4/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi juga dirancang sebagai ajang penguatan kapasitas, koordinasi, dan solidaritas antarrelawan kebencanaan di wilayah Kabupaten Jember.

Selama dua hari pelaksanaan, ratusan relawan dari berbagai komunitas turun langsung mengikuti rangkaian kegiatan yang bersifat edukatif sekaligus kompetitif. Suasana kebersamaan dan semangat gotong royong tampak kental sejak hari pertama, ketika para peserta mulai mendirikan tenda darurat, melakukan simulasi penyelamatan menggunakan sekoci, hingga mengikuti pelatihan lapangan yang menuntut ketangkasan dan koordinasi tim.

Tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan teknis, kegiatan ini juga dirancang untuk mempererat hubungan antarrelawan. Hal ini terlihat dari adanya agenda api unggun yang digelar pada malam hari, yang menjadi ruang interaksi santai sekaligus memperkuat rasa kebersamaan. Dalam situasi bencana, kekompakan dan kepercayaan antaranggota tim menjadi faktor krusial dalam menentukan keberhasilan penanganan di lapangan.

Beragam komunitas relawan ambil bagian dalam kegiatan ini, di antaranya Relawan Ben Sroben, Rescue Baret Biru, Tagana, Tiga Perempat Kalisat, Rock n Rol, Barat Daya, hingga Relawan Gumitir. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya jaringan relawan kebencanaan di Jember yang terus berkembang dan siap bergerak cepat saat dibutuhkan.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesiapsiagaan yang menyeluruh, tidak hanya di tingkat pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. Menurutnya, bencana tidak dapat diprediksi secara pasti, sehingga kesiapan sejak dini menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

“Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kita latih keterampilan relawan sekaligus membangun kekompakan agar penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujarnya.

Edy juga menambahkan bahwa Kabupaten Jember memiliki potensi kerawanan bencana yang cukup tinggi. Kondisi geografis yang beragam membuat wilayah ini rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari tanah longsor di daerah perbukitan, banjir di wilayah dataran rendah, hingga potensi gempa bumi. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.

Dalam konteks tersebut, keberadaan relawan menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana, terutama pada fase tanggap darurat. Mereka sering kali menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi sebelum bantuan resmi datang. Karena itu, pelatihan yang berkelanjutan dan terstruktur menjadi kebutuhan mutlak.

Apel kesiapsiagaan ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap kemampuan relawan dalam menghadapi skenario bencana. Melalui simulasi yang dilakukan, para peserta dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang koordinasi lintas komunitas agar saat terjadi bencana, tidak terjadi tumpang tindih tugas di lapangan.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana. Edukasi yang diberikan tidak hanya terbatas pada relawan, tetapi juga dapat diteruskan kepada masyarakat luas melalui berbagai kegiatan sosialisasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek penanganan bencana, tetapi juga subjek yang aktif dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan.

Partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam membangun budaya sadar bencana, di mana setiap individu memahami risiko di lingkungannya dan mengetahui langkah yang harus diambil saat terjadi situasi darurat.

BPBD Jember berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk institusi pendidikan, dunia usaha, dan komunitas lokal. Sinergi lintas sektor dinilai sangat penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional ini, BPBD Jember kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas relawan dan meningkatkan kolaborasi antarstakeholder. Dengan kesiapan yang matang dan koordinasi yang solid, diharapkan dampak bencana dapat ditekan seminimal mungkin, serta keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.

Kegiatan ini bukan hanya menjadi simbol kesiapsiagaan, tetapi juga langkah nyata dalam membangun ketahanan daerah menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.