Warga Binaan Lapas Pasir Pangarayan Tunjukkan Kreativitas Lewat Lomba Lukis Bertema Ketahanan Pangan di HBP ke-62

Pasir Pangaraian – Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 menjadi momentum penting bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pasir Pangarayan untuk terus memperkuat komitmen dalam pembinaan warga binaan.

Salah satu kegiatan yang digelar dalam rangkaian peringatan tersebut adalah lomba melukis dengan tema ketahanan pangan, yang diikuti oleh sejumlah warga binaan pilihan.

Kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi seni, melainkan juga menjadi wadah ekspresi sekaligus sarana pembinaan mental dan keterampilan bagi warga binaan.

Dalam lomba tersebut, tiga orang warga binaan dipercaya mewakili Lapas Pasir Pangarayan untuk menampilkan karya terbaik mereka.

Masing-masing peserta menghadirkan lukisan yang menggambarkan pentingnya ketahanan pangan sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Beragam interpretasi dituangkan dalam kanvas. Ada yang menggambarkan aktivitas petani di sawah dengan latar hamparan hijau yang subur, ada pula yang menampilkan simbol keberagaman hasil pertanian sebagai cerminan kekayaan alam Indonesia.

Tak sedikit pula karya yang mengandung pesan mendalam tentang pentingnya kemandirian pangan di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Kepala Lapas Kelas IIB Pasir Pangarayan, Efendi Parlindungan Purba melalui Kepala Sub Seksi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan, Ega Saputra, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang berorientasi pada pengembangan potensi diri warga binaan.

Menurutnya, pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan keamanan, tetapi juga harus menyentuh sisi kreatif dan produktif warga binaan.

Dengan demikian, mereka memiliki bekal yang cukup ketika kembali ke tengah masyarakat.

"Melalui lomba melukis ini, kami ingin memberikan ruang bagi warga binaan untuk menyalurkan bakat dan minat mereka secara positif. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri serta memberikan pengalaman berharga dalam berkarya,” ujar Ega.

Ia menambahkan, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan seperti ini juga memiliki dampak psikologis yang signifikan.

Mereka merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki, sehingga dapat memotivasi untuk terus berkembang selama menjalani masa pembinaan.

Momentum HBP ke-62 sendiri mengusung semangat perubahan dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Transformasi dari pendekatan yang bersifat penghukuman menuju pembinaan yang lebih humanis menjadi fokus utama.

Dalam konteks ini, kegiatan seni seperti lomba melukis menjadi salah satu metode efektif untuk membangun karakter positif warga binaan.

Tema ketahanan pangan yang diangkat dalam lomba ini juga dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ketahanan pangan menjadi isu strategis yang berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui karya seni, warga binaan diajak untuk memahami pentingnya peran sektor pangan serta menumbuhkan kesadaran akan kontribusi yang dapat mereka berikan di masa depan.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong kemandirian pangan nasional.

Dengan mengenalkan konsep tersebut kepada warga binaan, diharapkan mereka dapat memiliki wawasan yang lebih luas serta kesiapan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ketika kembali ke masyarakat.
Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat dan antusiasme.

Para peserta tampak serius menggarap karya mereka, mulai dari tahap sketsa hingga pewarnaan. Dukungan dari petugas lapas juga terlihat nyata, dengan memberikan pendampingan serta motivasi kepada para peserta agar dapat menghasilkan karya terbaik.

Selain sebagai ajang kompetisi, lomba ini juga menjadi sarana pembelajaran. Warga binaan diajak untuk berpikir kreatif, mengasah kemampuan motorik, serta meningkatkan kepekaan terhadap isu-isu sosial.

Proses ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter yang lebih baik.
Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembinaan yang tepat dapat memberikan dampak positif bagi warga binaan.

Mereka tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ke depan, Lapas Pasir Pangarayan berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program pembinaan yang inovatif dan berkelanjutan.

Tidak hanya di bidang seni, tetapi juga dalam sektor lain seperti pelatihan keterampilan kerja, pendidikan, hingga kewirausahaan.

Upaya ini diharapkan dapat membantu warga binaan dalam mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat sebagai individu yang lebih mandiri dan produktif.

Dengan bekal keterampilan dan kepercayaan diri yang dimiliki, mereka diharapkan mampu berkontribusi secara positif di lingkungan sosial.

Di sisi lain, kegiatan seperti ini juga diharapkan dapat mengubah stigma negatif yang masih melekat di masyarakat terhadap warga binaan.

Bahwa di balik keterbatasan yang ada, mereka tetap memiliki potensi dan kemampuan yang layak untuk dikembangkan.

Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 pun menjadi refleksi bahwa pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan juga ruang pembinaan yang memberikan harapan dan kesempatan kedua.
Melalui goresan kuas di atas kanvas, warga binaan Lapas Pasir Pangarayan telah membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas.

Dari balik jeruji, mereka mampu menghadirkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna dan pesan.

Sebuah bukti bahwa dengan pembinaan yang tepat, setiap individu memiliki peluang untuk berubah, tumbuh, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.(*02/Cinta)