Di Bawah Komando dr. Yeni Dwi Putri, PMI Rokan Hulu Atasi Krisis Stok Darah Lewat MoU Strategis dengan OPD

dr. Yeni Dwi Putri menegaskan bahwa kondisi stok darah di Rohul membutuhkan perhatian serius.

Rokan Hulu – Krisis ketersediaan stok darah yang sempat mengkhawatirkan di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mendorong langkah cepat dan terukur dari Palang Merah Indonesia Cabang Rokan Hulu. Di bawah komando dr. Yeni Dwi Putri, PMI Rohul menggagas kolaborasi lintas sektor dengan menggandeng seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Senin (6/4/2026).

Langkah strategis ini menjadi jawaban atas tantangan serius yang dihadapi PMI dalam menjaga ketersediaan darah yang stabil bagi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung dengan suasana khidmat tersebut tidak hanya menjadi seremoni administratif, tetapi juga penegasan komitmen bersama dalam membangun sistem donor darah yang berkelanjutan di lingkungan pemerintahan daerah.

Dalam keterangannya, dr. Yeni Dwi Putri menegaskan bahwa kondisi stok darah di Rohul membutuhkan perhatian serius. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan darah di daerah tersebut terus meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah pasien yang memerlukan transfusi, baik untuk kebutuhan medis rutin maupun kondisi darurat.

“Kami ingin memastikan stok darah di Rokan Hulu tetap berada pada titik aman. Dengan adanya MoU ini, setiap OPD diharapkan memiliki jadwal donor rutin, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa kendala,” ujar dr. Yeni.

MoU tersebut memuat poin penting berupa instruksi kepada seluruh pimpinan OPD untuk menggerakkan pegawai di lingkungan masing-masing agar aktif berpartisipasi dalam kegiatan donor darah secara berkala. Skema ini dirancang untuk menciptakan pola donor yang konsisten, bukan hanya bersifat insidental.

Antusiasme terhadap program ini terlihat sejak hari pertama pelaksanaan. Dari total 30 OPD yang diundang, sebanyak 19 OPD telah hadir dan langsung menandatangani kesepakatan kerja sama. Tidak hanya itu, masing-masing OPD juga menunjukkan komitmen nyata dengan mengirimkan rata-rata 10 orang pendonor sebagai langkah awal implementasi MoU tersebut.

Partisipasi aktif ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran kolektif di kalangan aparatur sipil negara mulai terbentuk. PMI Rohul sendiri masih menunggu kehadiran 11 OPD lainnya untuk melengkapi kolaborasi ini, sehingga gerakan donor darah dapat berjalan lebih masif dan terstruktur.

Menurut dr. Yeni, untuk mencapai kondisi ideal pelayanan kesehatan, Rokan Hulu membutuhkan setidaknya 3.000 kantong darah per tahun. Angka ini bukan tanpa dasar, melainkan hasil kalkulasi kebutuhan berdasarkan jumlah penduduk dan tingkat permintaan transfusi di fasilitas kesehatan.

“Target 3.000 kantong darah per tahun ini sangat mungkin tercapai jika ada sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat. OPD memiliki peran strategis sebagai motor penggerak di lingkungan birokrasi,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa selama ini tantangan utama bukan hanya pada minimnya jumlah pendonor, tetapi juga pada belum terbangunnya sistem donor darah yang terjadwal dan berkesinambungan. Dengan adanya MoU ini, PMI berharap dapat mengubah pola tersebut menjadi lebih sistematis.

Selain menggandeng OPD, PMI Rohul juga terus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat umum. Kantor PMI siap melayani masyarakat yang ingin mendonorkan darahnya kapan saja, dengan prosedur yang aman dan sesuai standar kesehatan.

Ajakan kemanusiaan pun disampaikan dr. Yeni kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak ragu untuk menjadi pendonor. Ia menekankan bahwa satu kantong darah dapat menyelamatkan lebih dari satu nyawa, sehingga setiap tetes yang disumbangkan memiliki arti yang sangat besar.

“Setetes darah Anda adalah nyawa bagi mereka yang membutuhkan. Mari kita bersama-sama membangun kepedulian ini,” ujarnya mengajak.

Langkah kolaboratif ini dinilai sebagai terobosan penting dalam manajemen krisis kesehatan di tingkat daerah. Dengan melibatkan OPD secara langsung, PMI tidak hanya memperluas basis pendonor, tetapi juga menciptakan ekosistem donor darah yang lebih terorganisir.

Di sisi lain, keterlibatan pemerintah daerah melalui OPD menunjukkan adanya komitmen kuat dalam mendukung program kemanusiaan. Hal ini sekaligus mempertegas bahwa persoalan ketersediaan darah bukan hanya tanggung jawab PMI semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Sejumlah pihak menilai bahwa pendekatan berbasis MoU ini dapat menjadi model yang direplikasi di daerah lain, khususnya dalam mengatasi persoalan serupa. Dengan sistem yang terjadwal dan berbasis institusi, risiko kekurangan stok darah dapat diminimalisir secara signifikan.

Ke depan, PMI Rohul berencana untuk melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan MoU tersebut. Monitoring ini penting untuk memastikan bahwa setiap OPD menjalankan komitmennya secara konsisten dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan stok darah.

Dengan sinergi yang terus diperkuat, diharapkan Rokan Hulu tidak lagi menghadapi krisis stok darah. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya donor darah sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat.

Kolaborasi antara PMI dan OPD ini menjadi bukti bahwa ketika kepedulian sosial bertemu dengan kebijakan yang tepat, maka solusi atas persoalan kemanusiaan dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan.(*02/cinta)