Harga Sawit Menguat, TBS di Riau Nyaris Rp4.000/Kg, Sumut Variatif
Nasional – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah wilayah Indonesia kembali menunjukkan tren kenaikan signifikan pada awal April 2026,Rabu (1/4/2026).
Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan kernel, baik di pasar domestik maupun global.
Kondisi tersebut memberikan angin segar bagi petani, khususnya di Provinsi Riau, meskipun di wilayah lain seperti Sumatera Utara harga masih bervariasi.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Riau, harga TBS petani swadaya pada periode 1–7 April 2026 naik sebesar Rp125,13 per kilogram atau 3,26 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Dengan kenaikan ini, harga TBS mencapai Rp3.967,83 per kilogram atau mendekati Rp4.000/kg.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, menyampaikan bahwa kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok umur tanaman sawit 9 tahun, yang merupakan usia produktif optimal bagi tanaman kelapa sawit.
“Kenaikan harga TBS pekan ini dipengaruhi oleh naiknya harga jual minyak sawit mentah atau CPO dan kernel sehingga berdampak langsung pada peningkatan harga TBS yang diterima petani,” ujar Defris.
Ia menjelaskan, harga CPO pada periode ini mengalami kenaikan sebesar Rp463,32/kg menjadi Rp15.663,50/kg dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, harga kernel juga naik signifikan sebesar Rp641,00/kg menjadi Rp15.385/kg.
Selain petani swadaya, kenaikan harga juga dirasakan oleh petani yang bermitra dengan perusahaan (plasma).
Untuk periode yang sama, harga pembelian TBS mitra plasma naik sebesar Rp64,13/kg atau 1,65 persen menjadi Rp3.950,63/kg.
Harga di Sumatera Utara Masih Beragam
Berbeda dengan Riau yang mencatat harga mendekati Rp4.000/kg, harga TBS di Provinsi Sumatera Utara masih menunjukkan variasi antar daerah.
Berdasarkan data per 1 April 2026, harga TBS di provinsi tersebut berkisar antara Rp2.950 hingga Rp3.315 per kilogram.
Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mencatat harga tertinggi sebesar Rp3.315/kg, disusul Kabupaten Padang Lawas (Palas) Rp3.300/kg, serta Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) Rp3.150/kg.
Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Langkat, Batu Bara, Asahan, dan Tapanuli Selatan berada di kisaran Rp2.950/kg.
Variasi harga ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain kualitas buah, umur tanaman, kedekatan dengan pabrik kelapa sawit (PKS), hingga biaya angkut dan rantai distribusi.
Seorang petani sawit di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rahmat (45), mengaku kenaikan harga saat ini cukup membantu, meskipun belum merata di semua daerah.
“Harga sekarang sudah lebih baik dibanding bulan lalu, tapi memang masih beda-beda tergantung lokasi. Kami berharap bisa terus naik agar biaya produksi bisa tertutup,” ujarnya.
Dinamika Global Dorong Harga
Kenaikan harga sawit di dalam negeri tidak terlepas dari pengaruh pasar global.
Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia tercatat berada di atas MYR 4.850 per ton pada awal April 2026, melanjutkan tren kenaikan selama lima sesi berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak Desember 2024.
Penguatan harga ini didorong oleh meningkatnya harga minyak nabati di pasar internasional, termasuk di Dalian, China dan Chicago, Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan sentimen positif terhadap komoditas sawit.
Faktor kebijakan juga menjadi pendorong penting. Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan mandatori campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan ini diyakini akan meningkatkan permintaan domestik terhadap CPO secara signifikan.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur di China sebagai salah satu konsumen utama juga menunjukkan tren ekspansi selama empat bulan berturut-turut hingga Maret 2026, meskipun laju pertumbuhannya mulai melambat.
Sentimen Negatif Masih Membayangi
Meski tren harga menguat, sejumlah faktor eksternal masih berpotensi menahan laju kenaikan.
Salah satunya adalah penguatan nilai tukar ringgit Malaysia yang dapat memengaruhi daya saing ekspor minyak sawit negara tersebut di pasar global.
Selain itu, permintaan dari India sebagai salah satu importir terbesar minyak sawit diperkirakan melemah.
Impor India pada Maret 2026 diproyeksikan hanya mencapai sekitar 680.000 ton, turun dari 847.689 ton pada Februari.
Penurunan juga terjadi di pasar Uni Eropa. Data Komisi Eropa menunjukkan bahwa impor minyak sawit untuk musim 2025/2026 yang dimulai pada Juli turun 2 persen secara tahunan menjadi 2,14 juta ton.
Pengamat ekonomi pertanian menilai kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sawit global masih menghadapi ketidakpastian.
“Faktor permintaan global masih fluktuatif. Jadi meskipun saat ini harga naik, tetap ada potensi koreksi jika permintaan dari negara besar melemah,” ujar seorang analis komoditas yang enggan disebutkan namanya.
Peluang dan Tantangan Petani
Kenaikan harga TBS tentu menjadi kabar baik bagi petani kelapa sawit, terutama petani swadaya yang selama ini sangat bergantung pada harga pasar.
Namun demikian, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari kenaikan biaya pupuk hingga fluktuasi harga yang sulit diprediksi.
Pemerintah daerah diharapkan terus melakukan pengawasan dan penetapan harga secara transparan agar petani mendapatkan harga yang adil.
Selain itu, peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen juga menjadi kunci agar petani dapat memaksimalkan keuntungan di tengah tren positif saat ini.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik yang saling mempengaruhi, pergerakan harga sawit ke depan diperkirakan masih akan dinamis.
Para pemangku kepentingan, baik pemerintah, pelaku industri, maupun petani, diharapkan dapat bersinergi untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor kelapa sawit nasional.(*01/Leli).









Tulis Komentar