Trump Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Rusia, Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, , dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah besar dengan melonggarkan bahkan mencabut sanksi minyak terhadap . Kebijakan ini muncul setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Harga minyak global dilaporkan menembus US$119 per barel, level tertinggi sejak Juli 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan dan terhadap , yang berdampak langsung pada terganggunya pasokan energi dunia.

Menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters, salah satu opsi yang dipertimbangkan pemerintahan Trump adalah memberikan izin kepada negara-negara tertentu untuk membeli minyak Rusia tanpa khawatir terkena sanksi AS. Langkah ini dinilai sebagai upaya cepat untuk menambah pasokan minyak global dan meredam lonjakan harga.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Florida, Trump menyebut pemerintahannya membuka kemungkinan mencabut sanksi terhadap beberapa negara hingga jalur distribusi minyak kembali normal.

“Kami memberlakukan sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai Selat dibuka,” ujar Trump, merujuk pada yang saat ini menjadi pusat krisis energi dunia.

Selat Hormuz Ditutup, Pasokan Dunia Terancam

Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu, menyusul serangan militer yang melibatkan AS dan Israel. Jalur laut sempit yang berada di antara dan tersebut merupakan jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Penutupan jalur strategis ini menyebabkan distribusi minyak global terganggu dan memicu kekhawatiran pasar energi internasional.

Sementara itu, Trump juga mengungkapkan telah melakukan pembicaraan yang disebutnya sebagai “percakapan yang sangat baik” dengan Presiden Rusia, , terkait konflik di .

Opsi Lain: Lepas Cadangan Minyak G7

Selain melonggarkan sanksi terhadap Rusia, Gedung Putih juga tengah mempertimbangkan sejumlah langkah lain untuk menstabilkan pasar energi. Di antaranya:

Mengintervensi pasar berjangka minyak (oil futures)

Menghapus beberapa pajak federal energi

Melonggarkan aturan Undang-Undang Jones terkait pengangkutan bahan bakar domestik

Mengeluarkan cadangan minyak strategis negara-negara G7

Menteri Energi AS, , bahkan mengonfirmasi bahwa Washington telah berdiskusi dengan negara-negara anggota mengenai kemungkinan penjualan minyak dari cadangan strategis bersama.

Namun hingga kini, belum ada keputusan final terkait langkah tersebut.

Dampak Politik Menjelang Pemilu

Lonjakan harga minyak juga menjadi perhatian serius Gedung Putih karena dikhawatirkan akan memukul konsumen dan dunia usaha di AS menjelang pemilihan umum paruh waktu yang akan digelar November mendatang. Pemilu ini akan menentukan kekuatan Partai Republik di Kongres.

Para analis energi menilai pilihan kebijakan yang tersedia bagi pemerintah AS saat ini sangat terbatas, mulai dari langkah simbolis hingga kebijakan yang berisiko secara geopolitik.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup, krisis energi global diperkirakan bisa semakin memburuk dan berdampak pada harga bahan bakar di berbagai negara.