Dunia Bergejolak Usai Serangan Israel–AS ke Iran

Gelombang Kecaman Menguat
Ketegangan global meningkat tajam setelah serangan militer Israel yang disebut mendapat dukungan Amerika Serikat menghantam Iran dan menimbulkan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Serangan yang terjadi di tengah proses diplomasi itu memicu kecaman luas dari berbagai negara dan dikhawatirkan memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah pemimpin dunia menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan ancaman serius terhadap stabilitas internasional.
Rusia: “Tikaman dari Belakang Diplomasi”
Pemerintah Rusia melalui Duta Besarnya di PBB, Vasily Nebenzya, menyebut serangan itu sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang berpotensi memicu eskalasi lebih luas.
“Ini adalah tikaman dari belakang terhadap diplomasi. Serangan dilakukan di tengah proses negosiasi aktif,” tegas Nebenzya di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Moskow menilai langkah tersebut merusak stabilitas dan keamanan kawasan Timur Tengah.
China: Pelanggaran Serius Kedaulatan
Sikap keras juga datang dari China. Kementerian Luar Negeri China menyebut serangan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran.
Beijing menyerukan penghentian segera operasi militer dan mendesak semua pihak menahan diri demi mencegah situasi semakin memburuk.
Oman: Negosiasi yang Dirusak
Dari kawasan Teluk, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan kekecewaannya. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya terdapat harapan kemajuan diplomatik terkait isu nuklir Iran.
“Negosiasi yang aktif dan serius sekali lagi telah dirusak,” tulisnya, seraya memperingatkan agar Amerika Serikat tidak semakin terseret dalam konflik yang lebih luas.
Brasil dan Spanyol: Desak De-eskalasi
Pemerintah Brasil menilai jalur negosiasi adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian dan meminta semua pihak menghormati hukum internasional.
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menolak aksi militer sepihak yang dinilainya berkontribusi pada tatanan global yang semakin tidak pasti dan bermusuhan. Ia mendesak dialog segera dilanjutkan demi solusi politik jangka panjang.
Pakistan, Kuba, dan Malaysia Ikut Mengecam
Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyebut serangan tersebut tidak beralasan dan berpotensi memperluas konflik.
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menilai pembunuhan pemimpin negara sebagai pelanggaran berat terhadap norma hukum internasional.
Di Asia Tenggara, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memperingatkan bahwa penargetan kepala negara menetapkan preseden berbahaya dan dapat menempatkan Timur Tengah di ambang ketidakstabilan berkepanjangan.
Ancaman Eskalasi Global
Serangan ini terjadi saat diplomasi masih berlangsung, sehingga banyak pihak menilai momentum perdamaian justru terhenti. Para pengamat memperingatkan bahwa eskalasi lanjutan bisa berdampak pada stabilitas energi global, keamanan regional, hingga hubungan antarnegara besar.
Dengan meningkatnya tekanan internasional, dunia kini menanti langkah berikutnya dari Washington, Tel Aviv, dan Teheran—apakah menuju konfrontasi terbuka atau kembali ke meja perundingan.