Produksi Minyak BSP Anjlok, DPRD Siak Soroti Kebocoran Pipa dan Manajemen BUMD
Jakarta – Pimpinan dan Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Siak melakukan audiensi dengan SKK Migas dan Direktorat Jenderal Migas di Gedung SKK Migas Lantai 36, ruang Mercury Removal, terkait anjloknya produksi minyak PT Bumi Siak Pusako (BSP).
Dalam pertemuan tersebut terungkap, produksi minyak di BUMD milik Pemerintah Kabupaten Siak itu mengalami penurunan signifikan dan berulang sejak 2024 hingga awal 2026. Produksi yang sebelumnya stabil di kisaran 8.000 barel per hari bahkan sempat merosot drastis hingga 2.000 barel per hari, akibat berbagai persoalan teknis dan tata kelola.
Masalah utama yang disorot adalah kerapnya kebocoran pipa pada jalur GS Zamrud menuju GS Minas sejak Maret 2024. Kondisi pipa tua yang mengalami korosi, pembekuan minyak (congeal), hingga tekanan tinggi (high pressure) membuat distribusi minyak terganggu dan memaksa perusahaan melakukan pengiriman melalui truk tangki atau barging, yang berdampak pada lonjakan biaya operasional.
Tak hanya itu, pembekuan minyak di dalam pipa akibat korosi berulang hingga 2025 disebut telah merugikan Pemerintah Kabupaten Siak hingga Rp238 miliar pada 2024. Kebocoran pipa juga terjadi di sejumlah titik sepanjang Januari hingga Maret 2025, yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk perbaikan dan menyebabkan penghentian produksi sementara.
Ketua DPRD Siak, Indra Gunawan, menegaskan bahwa produksi yang tidak andal ini menjadi ancaman serius bagi daerah. Selain berpotensi menghilangkan ribuan barel minyak, kondisi tersebut juga berdampak pada lifting nasional serta Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak.
“Biaya operasional meningkat luar biasa karena harus menggunakan trucking atau barging. Di sisi lain, harga CPO juga turun, sehingga tekanan ekonomi daerah semakin berat,” ujar Indra Gunawan dalam diskusi tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi “momok buruk” bagi masa depan daerah jika BSP tidak segera bangkit dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan efisiensi operasional.
Menurut politisi muda Partai Golkar itu, persoalan teknis pipa tua membutuhkan penanganan serius dan perawatan ekstra hati-hati. Sementara itu, pengangkutan manual melalui truk tangki masih harus dilakukan sebagai solusi sementara untuk menjaga produksi tetap berjalan.
“Perlu pembenahan serius, baik dari sisi manajemen, SDM, maupun infrastruktur. Jika tidak, potensi kerugian daerah akan semakin besar,” tegasnya.









Tulis Komentar