“Ada Nasi, Kak?” Jeritan Pilu Warga Aceh Tamiang Tiga Pekan Pascabanjir Bandang

Korban banjir bandang Aceh.jpg

ACEH TAMIANG - Tiga pekan sudah berlalu sejak banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera. Namun bagi warga Kabupaten Aceh Tamiang, bencana itu belum benar-benar pergi. Lumpur masih menutup jalan, listrik belum pulih sepenuhnya, dan bantuan yang diharapkan tak kunjung merata.

Kondisi paling memprihatinkan terlihat di Kuala Simpang, tepatnya di Kampung Minuran, Desa Bukit Rata. Rumah-rumah warga rusak, perabotan hanyut, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Hingga kini, kehidupan belum kembali normal.

Salah seorang warga, Aril, mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, selama hampir tiga minggu pascabanjir, bantuan yang diterima warga sangat terbatas.

“Sampai sekarang bantuan belum ada, kecuali dari relawan yang datang dari luar daerah. Listrik juga belum hidup normal, sempat menyala sebentar lalu mati lagi. Tolong perhatikan kami, jangan biarkan kami menderita seperti ini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Tak hanya soal logistik, kondisi kesehatan warga juga mulai mengkhawatirkan. Lingkungan yang lembap, air yang tercemar, serta keterbatasan air bersih menyebabkan sejumlah warga jatuh sakit. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan.

Di pusat Kota Kuala Simpang, genangan air masih terlihat di sejumlah titik. Lumpur tebal menutupi ruas jalan, sementara bau menyengat tercium hampir di setiap sudut kota, menandakan belum optimalnya proses pembersihan pascabanjir.

Namun pemandangan paling memilukan justru terlihat di sepanjang jalan. Warga berjejer menghampiri relawan dan pengendara yang melintas. Dengan tatapan lelah dan suara lirih, mereka memohon bantuan sekadar untuk bertahan hidup.

“Ada nasi, Kak?”

Kalimat singkat itu menjadi potret nyata penderitaan warga Aceh Tamiang hari ini.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan secara maksimal. Bantuan pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak agar penderitaan akibat banjir bandang ini tidak berlarut-larut.

Tiga minggu pascabencana, Aceh Tamiang masih menunggu menunggu uluran tangan, menunggu kepedulian, dan menunggu kehadiran negara di tengah duka mereka.